Diskusi Panel SMPN 1 Gresik: Memahami Batasan Penggunaan AI Dalam Tugas

Kegiatan diskusi panel ini menghadirkan berbagai sudut pandang, mulai dari guru teknologi informasi, praktisi pendidikan, hingga perwakilan siswa. Fokus utamanya adalah memberikan pemahaman yang jernih mengenai etika digital di era modern. Siswa diajak untuk menyadari bahwa meskipun teknologi dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, esensi dari pendidikan adalah proses pencarian jawaban itu sendiri. Tanpa adanya proses berpikir, logika dan daya kritis siswa dikhawatirkan akan mengalami tumpul karena terlalu bergantung pada mesin.

Pihak SMPN 1 Gresik menekankan bahwa teknologi ini memiliki potensi besar jika digunakan secara bijak. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana siswa tetap mampu menjaga integritas akademik mereka. Dalam diskusi tersebut, dijelaskan secara mendalam mengenai batasan penggunaan teknologi pintar dalam lingkungan sekolah. Siswa diperbolehkan menggunakan bantuan teknologi untuk mencari referensi, memahami konsep yang sulit, atau mencari inspirasi awal, namun dilarang keras menggunakannya untuk melakukan plagiarisme atau menyalin jawaban secara utuh tanpa proses pengolahan pikiran sendiri.

Topik mengenai penggunaan AI dalam kurikulum sekolah menengah memang menjadi perdebatan yang menarik. Di satu sisi, kemampuan berinteraksi dengan teknologi masa depan adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja nantinya. Namun di sisi lain, pondasi dasar seperti kemampuan menulis, berhitung, dan menganalisis secara mandiri harus tetap kokoh. Sekolah ingin memastikan bahwa siswa tidak kehilangan kemampuan dasar tersebut. Teknologi harus diposisikan sebagai “asisten” yang membantu mempercepat pekerjaan, namun kendali penuh atas hasil karya tetap berada di tangan manusia sebagai penciptanya.

Dalam setiap tugas yang diberikan oleh guru, kejujuran adalah nilai tertinggi yang harus dijaga. Guru-guru di sekolah ini mulai menerapkan metode evaluasi yang lebih menekankan pada pemahaman konsep dan presentasi lisan guna memverifikasi keaslian karya siswa. Hal ini dilakukan agar siswa memahami bahwa hasil akhir berupa angka di rapor tidak ada artinya jika tidak disertai dengan pemahaman materi yang sesungguhnya. Diskusi ini juga membuka ruang bagi siswa untuk berbagi keresahan mereka mengenai cara bersaing di masa depan yang semakin kompetitif dengan adanya otomatisasi.

Mungkin Anda juga menyukai