Quiet Quitting di Sekolah: Mengapa Siswa SMPN 1 Gresik Enggan Berprestasi Maksimal?

Fenomena “Quiet Quitting” yang awalnya dikenal dalam konteks dunia kerja kini mulai merambah lingkungan akademik, terutama di kalangan remaja. Di SMPN 1 Gresik, muncul kekhawatiran bahwa banyak siswa hanya melakukan tugas sekolah sebatas minimum yang diperlukan untuk lulus, menunjukkan keengganan untuk mencapai prestasi maksimal. Quiet Quitting di Sekolah bukan tentang bolos atau melawan, melainkan tentang penarikan diri secara emosional dan mental dari tuntutan berlebihan dalam sistem pendidikan. Dua kata kunci yang menjadi fokus di artikel ini adalah “Quiet Quitting di Sekolah” dan “SMPN 1 Gresik Berprestasi Maksimal”.

Quiet Quitting di Sekolah terjadi ketika siswa memutuskan secara sadar atau tidak sadar untuk mengurangi usaha dan keterlibatan mereka. Mereka menghadiri kelas, menyerahkan tugas tepat waktu, dan lulus ujian, tetapi tidak ada gairah, inisiatif ekstra, atau upaya untuk eksplorasi akademik di luar kurikulum wajib. Keengganan Siswa SMPN 1 Gresik Berprestasi Maksimal sering kali merupakan respons terhadap beberapa faktor penyebab utama yang kompleks:

  1. Burnout dan Tekanan Berlebihan: Lingkungan akademik yang sangat kompetitif dan menuntut seringkali memicu burnout. Siswa merasa bahwa nilai dan keberhasilan adalah satu-satunya tolok ukur, yang mengarah pada kelelahan mental. Quiet Quitting menjadi mekanisme perlindungan diri untuk menjaga sisa energi dan mencegah stres kronis.
  2. Kurangnya Relevansi: Jika siswa tidak melihat hubungan antara materi pelajaran yang mereka pelajari dan tujuan hidup atau minat pribadi mereka, motivasi akan menurun drastis. Mereka mungkin bertanya, “Mengapa saya harus berusaha keras untuk hal yang tidak penting bagi saya?”
  3. Fokus pada Kuantitas, Bukan Kualitas: Sekolah yang terlalu fokus pada jumlah tugas, jam belajar, dan nilai angka (kuantitas) seringkali gagal menghargai proses belajar, kreativitas, atau pemikiran kritis (kualitas). Ketika upaya maksimal tidak dihargai secara holistik, siswa SMPN 1 Gresik merasa lebih logis untuk hanya melakukan bare minimum.

Mengatasi Quiet Quitting di Sekolah memerlukan perubahan budaya di SMPN 1 Gresik. Fokus tidak boleh hanya pada cara memaksa siswa kembali berjuang untuk prestasi maksimal, tetapi pada cara menciptakan lingkungan yang menumbuhkan motivasi intrinsik dan well-being.

Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:

  • Mengutamakan Kesejahteraan Mental: Mengintegrasikan program mindfulness dan mengurangi tekanan non-akademik yang tidak perlu.
  • Meningkatkan Otonomi Siswa: Memberikan siswa pilihan dalam tugas atau proyek mereka, sehingga mereka merasa memiliki kontrol lebih besar atas pembelajaran mereka.
  • Mendefinisikan Ulang Makna Sukses: Sekolah dan orang tua harus mulai menghargai pertumbuhan, upaya, dan keberanian untuk mencoba hal baru, bukan hanya nilai akhir.

Jika SMPN 1 Gresik dapat mengatasi akar penyebab kelelahan dan kurangnya koneksi ini, fenomena Quiet Quitting di Sekolah dapat diatasi, dan siswa akan secara alami kembali termotivasi untuk mencapai potensi penuh mereka, bukan karena paksaan, tetapi karena rasa ingin tahu dan passion yang sejati.

Mungkin Anda juga menyukai